KONFLIK ANTAR
KELOMPOK
salah
satu permasalahan sosial yang utama adalah konflik antar kelompok. Konflik
antar kelompok adalah pertentangan yang terjadi antara dua kelompok atau lebih
yang disebabkan oleh kepentingan yang sama. Konflik antar kelompok memiliki
dampak bagi kelompok, baik yang menang maupun kalah. Bagi yang menang dapat
meningkatkan loyalitas dan identitas sosial dan bagi yang kalah dapat
menimbulkan perpecahan dalam kelompok. Untuk
mengurangi konflik, ada beberapa langkah, yaitu melakukan kontak (komunikasi),
berunding, menerima dan melakukan hasil kesepakatan bersama dan melakukan
evaluasi.
Berbicara mengenai
konflik antar kelompok, maka erat kaitannya dengan kepentingan. Konflik dapat terjadi
antar dua kelompok disebabkan oleh perbedaan pendapat, kepentingan atau tujuan,
konflik juga bisa terjadi terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan
dengan realita. Ketika suatu kelompok mempunyai harapan atau keinginan, dan
ketika harapan itu terbentur oleh situasi nyata yang berlawanan, maka bisa
menimbulkan konflik di dalam dan di luar kelompok. Namun dalam memahami konflik
antar kelompok tidak sesederhana itu, banyak faktor yang menyebabkan mengapa
timbul konflik antar kelompok tergantung konteksnya seperti apa. Masalah
perekonomian, kecemburuan, prasangka, hukum, ekonomi, serta perbedaan etnik dan
agama menjadi masalah utama yang menyebabkan konflik terutama di negeri ini.
Konflik juga bisa terjadi karena masalah
politik,
Contoh kasus :
Timika - Perang kelompok warga di Distrik
Kwamki Narama, Timika, Papua, sudah berlangsung selama lima bulan. Hari ini
satu orang warga meninggal setelah terkena panah dan jasadnya telah dibakar.
Ratusan warga di Distrik Kwamki Narama masih mempersenjatai diri dengan alat perang tradisional berupa panah, parang, dan senjata tajam tradisional lainnya. Mereka masih saling serang. Warga Kampung Landu Mekar dan Kampung Pompa Dua menyerang warga Kampung Mekurima, yang posisinya di antara dua kampung tersebut.
Akibat perang warga di Distrik Kwamki Narama, sembilan warga meninggal dan ratusan warga mengalami luka-luka.
Aparat kepolisian yang disiagakan dan selalu memblokade perang warga kewalahan lantaran perang antarwarga berpindah dari lokasi terbuka di kawasan jalan penghubung kampung itu ke pekarangan dan hutan-hutan.
Perang warga di Distrik Kwamki Narama merupakan dendam-dendam perang antarwarga sebelumnya. Salah satu tokoh masyarakat Amungme, Yohanis Kibak, meminta pemerintah menengahi konflik warga Kwamki Narama.
"Pemda Mimika dan Provinsi harus turun ke lapangan. Membantu menengahi permasalahan di Kwamki Narama, agar perang tidak berkelanjutan," kata Yohanis Kibak, Selasa (13/3/2018).
Perang ini dinilai telah keluar dari perang adat. Sebab, perang kali ini banyak menelan korban di luar lokasi perang.
"Ini perang sudah bukan perang pakai adat, pembunuhan di luar lokasi perang, warga yang sedang beraktivitas di luar lokasi perang jadi korban," jelas Yohanis.
Pihaknya berharap aparat lebih tegas menindak dengan hukum positif daripada hukum adat.
"Iya, polisi harus tegas dengan hukum positif, ini kelemahan di Papua. Hukum positif dinomorduakan. Tangkap pelaku, proses hukum, biar jera," tambah Yohanis.
Hingga saat ini TNI/Polri disiagakan di Kwamki Narama guna menghalau perang warga.
Kwamki Narama terletak di sebelah utara Timika, 3 kilometer dari Kota Timika, yang penduduknya merupakan 90 persen orang asli Papua dari berbagai suku besar, seperti Amungme, Dani, dan Damal.
(asp/asp)
Ratusan warga di Distrik Kwamki Narama masih mempersenjatai diri dengan alat perang tradisional berupa panah, parang, dan senjata tajam tradisional lainnya. Mereka masih saling serang. Warga Kampung Landu Mekar dan Kampung Pompa Dua menyerang warga Kampung Mekurima, yang posisinya di antara dua kampung tersebut.
Akibat perang warga di Distrik Kwamki Narama, sembilan warga meninggal dan ratusan warga mengalami luka-luka.
Aparat kepolisian yang disiagakan dan selalu memblokade perang warga kewalahan lantaran perang antarwarga berpindah dari lokasi terbuka di kawasan jalan penghubung kampung itu ke pekarangan dan hutan-hutan.
Perang warga di Distrik Kwamki Narama merupakan dendam-dendam perang antarwarga sebelumnya. Salah satu tokoh masyarakat Amungme, Yohanis Kibak, meminta pemerintah menengahi konflik warga Kwamki Narama.
"Pemda Mimika dan Provinsi harus turun ke lapangan. Membantu menengahi permasalahan di Kwamki Narama, agar perang tidak berkelanjutan," kata Yohanis Kibak, Selasa (13/3/2018).
Perang ini dinilai telah keluar dari perang adat. Sebab, perang kali ini banyak menelan korban di luar lokasi perang.
"Ini perang sudah bukan perang pakai adat, pembunuhan di luar lokasi perang, warga yang sedang beraktivitas di luar lokasi perang jadi korban," jelas Yohanis.
Pihaknya berharap aparat lebih tegas menindak dengan hukum positif daripada hukum adat.
"Iya, polisi harus tegas dengan hukum positif, ini kelemahan di Papua. Hukum positif dinomorduakan. Tangkap pelaku, proses hukum, biar jera," tambah Yohanis.
Hingga saat ini TNI/Polri disiagakan di Kwamki Narama guna menghalau perang warga.
Kwamki Narama terletak di sebelah utara Timika, 3 kilometer dari Kota Timika, yang penduduknya merupakan 90 persen orang asli Papua dari berbagai suku besar, seperti Amungme, Dani, dan Damal.
(asp/asp)
Analisis kasus
Berdasarkan kasus tersebut dapat
dilihat bahwa adanya tindakan anarkis oleh kelompok warga distrik Kwamki Narama. Konflik ini
memberikan dampak negatif kepada kedua belah pihak maupun warga yang tidak
bersalah. Konflik tersebut muncul karena adanya perasaan tidak senang, benci,
dan dendam yang berasal dari perang-perang sebelumnya.
Akibat dari konflik tersebut seperti rusaknya
fasilitas umum dan pemukiman warga, jatuhnya banyak korban luka-luka hingga
tewas,warga yang tidak bersalah juga ikut menjadi korban sehingga dapat
memberikan dampak pada psikologisnya, dan yang paling parah lagi timbulnya
perpecahan antar masyarakat
Konflik tersebut dapat diselesaikan
dengan menimbulkan sifat toleransi dalam diri mengenai pendapat dan budaya yang
berbeda. Pemerintah juga harus segera mengambil tindakan untuk mengatasi
masalah ini. Pemerintah dapat melakukan sosialisasi dan penyuluhan pendidikan
kepada warga distik Kwamki Narama tentang pentingnya kebersamaan. Pemerintah juga
harus meningkatkan apparat keamanan di daerah-daerah yang rawan perang
Sumber :

Komentar
Posting Komentar